| Selayang Pandang |
|
Industrial Engineering atau di Indonesia lebih dikenal dengan Teknik Industri merupakan disiplin disiplin ilmu yang relatif baru dan berkembang pesat di Indonesia. Tumbuh dan berkembangnya disiplin Teknik Industri di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari Pendidikan Tinggi Teknik Industri di Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan disiplin ilmu Teknik Industri pertama kali muncul dan diperkenalkan di Indonesia pada era tahun 1960 an oleh Bapak MATTHIAS AROEF, M.Sc. Ph.D. (Dosen Teknik Industri ITB), setelah beliau menyelesaikan studinya di Amerika, sekarang sebagai Guru Besar (Profesor) pada bidang keilmuan Teknik Industri. Pada awalnya bidang keilmuan Teknik Industri merupakan bagian dari salah satu Program Studi dari Departemen Teknik Mesin ITB. Baru pada tahun 1971 didirikanlah Departemen Teknik Industri di ITB yang terpisah dari Departemen Teknik Mesin. Seiring dengan semakin dikenalnya keilmuan Teknik Industri oleh masyarakat, semakin bertambah besar minat mahasiswa yang memilih bidang keilmuan Teknik Industri. Oleh karena itu, semakin banyak pula Perguruan Tinggi yang mencoba membuka Program Studi baru Teknik Industri. Sebagai bidang keilmuan yang relatif baru, disamping dibutuhkan persamaan persepsi dalam pemahaman keilmuan juga dibutuhkan peningkatan mutu pembelajaran. Oleh karena itu, pada tanggal 9 Juli 1996, Departemen Teknik Industri ITB, memprakarsai diselenggarakan Sarasehan Nasional Teknik Industri Indonesia, di Departemen Teknik Industri, Kampus ITB-Bandung untuk membentuk Forum Kerjasama antar Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri se Indonesia sebagai wadah komunikasi akademik antar Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri di seluruh Indonesia. Disepakati pendirian badan kerjasama baru yang dinamakan: Badan Kerjasama Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri Indonesia (BKSTI) atau The Indonesian Association of Industrial Engineering Higher Education Institution (IAIE) Sesuai dengan amanah yang tertuang dalam AD/ART BKSTI, dilaksanakan Konggres yang dihadiri oleh seluruh Korwil dan Anggota BKSTI se Indonesia dengan agenda Program Kerja Utama adalah Perumusan Pokok-Pokok Agenda Kerja dan Kegiatan, Pemilihan Ketua Umum dan Pengurus Badan Pelaksana dan Anggota Badan Pertimbangan BKSTI pada setiap periode (3 tahun). Berikut Ketua BKSTI terpilih pada acara Konggres yang diselenggarakan pada setiap periode jabatan:
Dalam rangka untuk lebih mengefektifkan komunikasi antar anggota, awalnya BKSTI terbagi dalam 5 (lima) Koordinator Wilayah (Korwil), yang terdiri dari:
Sesuai dengan petumbuhan dan perkembangan yang terjadi, pada Konggres BKSTI - IV di Palembang, Korwil Sumatera terbagi dalam 2 (dua) Korwil, yaitu:
Demikian juga pada konggres BKSTI – V di Makasar, diputuskan bahwa BKSTI terbagi dalam 7 (tujuh) Koordinator Wilayah (Korwil), sebagai berikut:
Sehingga sampai saat ini BKSTI terbagi dalam 8 (delapan) Korwil yang tersebar di berbagai wilayah daerah di Indonesia. |
Selayang Pandang